Sabtu, 28 Mei 2016

Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa yang mengandung pikiran lengkap. Sebuah kalimat paling kurang mengandung subjek dan predikat. Kalimat dalam wujud lisan diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut,disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).

Susilo (1990:2) mengemukakan lima ciri kalimat bahasa Indonesia kelima ciri tesebut ialah: bermakna, bersistem urutan frase, dapat berdiri sendiri dalam hubungannya dengan kalimat yang lain, berjeda dan berhenti dengan berakhirnya intonasi. Namun hal itu belum menjamin bahwa kalimat itu ialah kalimat bahasa Indonesia baku.

Contoh kalimat:
di tempat itu dijadidkan tempat pertemuan bagi pihak yang bertikai di Poso.
Kalimat ini bukanlah kalimat baku meskipun memiliki kelima ciri kalimat diatas. Hal itu karena tidak terlihat unsur subjek di dalam kalimat tersebut. Ciri kalimat baku menurut Susilo (1990:4), yaitu: gramatikal, masuk akal, bebas dari unsur mubazir, bebas dari kontaminasi, bebas dari interfensi, sesuai dengan ejaan yang berlaku dan sesuai dengan lafal bahasa Indonesia.
Share:

Senin, 15 Februari 2016

Pengingat Menjaga Hati





Bersabarlah, ingatlah  Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Jika dia baik bagimu maka kau dapat mengenalnya meski tanpa harus tergoda hawa nafsu.

Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Seorang wanita pasti menginginkan menjadi ibu dan istri yang baik. Ingatlah, anakmu berhak mendapat pengasuhan terbaik dari ibu yang sholehah dan cerdas. Dan ingatlah pula suamimu berhak mendapatkan istri terbaik sebagai perhiasannya. Mari perbaiki diri. ^_^


 Atau mau berakhir seperti ini?
 Aku juga udah ngerasain kok, memang gak ada manusia yang tidak berbuat kesalahan. Tapi kita bisa memperbaiki yang salah dan menyempurnakan yang benar. 


 Berjuanglah selagi perjuangan itu pahit dan imbalannya manis. ^_^
Kalo manis yang ini gak buat diabetes loh.. hehe :D



Share:

Sabtu, 09 Januari 2016

PEMILIK PENYINGGAH


Masihkah ada orang disini?
Masihkah tempat ini kosong?
Kemana pemilliknya
Yang ada hanya penyinggah
Berlakon bak pemilik
Pergi bak pelancong
Dimana pemilikna?
Apa dia juga jadi penyinggah
Waktu bergulir seraya isyarat belajarlah dari luka
Aku belum lelah
Pemilik datanglah
Jadilah penyinggah terakhir untukku
Sebelum aku muak dan mengalah pada lelah

Dan bilangg kau bukan pemilik tapi hanya penyinggah
Share:

Jumat, 08 Januari 2016

PASAR


Riuh itu sayup tak terdengar
Mati dimakan modernisasi
Lapak itu jeripayah
Masa dimana masih ramai terdengar
Barter tak lagi berulah
Membuat dua orang beradu penghidupan
Tak ramai lagi
Uang bukan lagi alat tapi kemutlakan
Saat itu masih menggeliat
Kini nafasnya tersengal
Dia sudah tua itu kata mereka
Nilailah yang hilang bukan dia yang menua
Dia tidak mandul

Hanya saja anaknya bergaya bak tak pernah akan jatuh




Share:

Kamis, 07 Januari 2016

Rabu, 06 Januari 2016

BENCANA KABUT ASAP


#kalimantan #sumatera

Lebu kian pekat
Api kian merayap
Dimanakah bebas itu pergi
Kewajiban apakah yang terlewat
Letupan api membakar jiwa kami
Bisakah damai dengan serakah terjadi
Apakah ini bencana alam
Siapa yang bisa bicara ini bencana alam
Itulah kenapa alam ragu
Berbagi perih
Alam hanya bisa berbagi kemanusiaan
Tanpa gencatan asap
Juga kepercayaan alam yang lenyap



Mengenang tragedi yang terjadi di Indonesia dan reda seiring berjalannya waktu. Teriakan rakyat cuma radio rusak bagi petinggi yang diangkat rakyat. Siapa sebenarnya penguasa negeri ini? Rakyat atau Pembantu Rakyat dan antek-anteknya





Share:

Selasa, 05 Januari 2016

Batas Jenuh


Kerjakeras masa dimana air mata harus tumpah
Waktu seolah berlari
Nafas tercekat, memburu tersengal-sengal
Raga mulai lunglai tapi bangkit lagi
Dimensi seolah berputar
Apakah gerangan ini?
Bumi atau akukah yang yang gila?
Mana air tuk lepas dahaga ini
Mana api yang bisa mengakhiri semua ini
Aku ingin mati kemudian bangkit lagi
Agar bisa tumbuhkan raga yang lebih kuat lagi
Aku ingin lari
Bukan kebelakang atau masa lalu
Melainkan kedepan
Menembus kabut-kabut itu
Jika kaki ini tak mampu lagi
Biarlah tertatih dan berdarah
Jika raga ini sudah mulai goyah
Guncang lebih keras lagi agar semakin rapuh
Agar retakan yang kan terjadi esok bisa diperbaiki sekarang
Bermuaralah lebih dalam
Buka perlahan
Sibak semua tanpa ampun
Buat ragamu bilang aku telah siap
Buat jasadmu bilang ini bukan apa-apa bagiku
Hal kecil seperti ini
Ah sudahlah
Bisa lenyap dalam sekejap
Aku menunggu yang lebih hebat dari ini
kemenanganku






Share: